Berbahayakah Merokok? Inilah Bahan Kimia Berbahaya Yang terkandung dalam Sebatang Rokok
Tahukah kita, tanpa kita sadari, lingkungan sekitar kita, termasuk barang-barang kebutuhan sehari-hari yang kita gunakan, dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan tubuh kita. Tanpa sadar kita telah menghirup bahan-bahan kimia berbahaya yang berasal dari benda-benda yang terdapat di tempat tinggal kita. Berikut ini penulis uraikan beberapa bahan kimia berbahaya yang sering terkontaminasi dengan tubuh kita tanpa kita sadari. Meskipun kadar bahan-bahan kimia yang masuk ke udara tersebut belum melebihi ambang batas yang diperbolehkan, namun jika terjadi paparan dalam waktu yang lama dan terus menerus dapat berpengaruh bagi kesehatan kita.
1. Asbes
Asbes merupakan serat mineral silika yang bersifat fleksibel, tahan lama dan tidak mudah terbakar. Asbes banyak digunakan sebagai penghantar listrik dan penghantar panas yang baik. Asbes banyak digunakan sebagai isolator panas dan pada pipa saluran pembuangan limbah rumah tangga, dan bahan material atap rumah. Asbes banyak digunakan dalam bahan-bahan bangunan. Jika ikatan asbes dalam senyawanya lepas, maka serat asbes akan masuk ke udara dan bertahan dalam waktu yang lama.
2. Bioaerosol
Kontaminan biologi seperti virus, bakteri, jamur, lumut , serangga atau serbuk sari tumbuhan. Kontaminan biologi tersebut jika dihembus oleh angin akan masuk ke udara dan mencemari udara bersih.
3. Formaldehid
Formaldehid merupakan aldehid sederhana. Gas formaldehid tidak berwarna dan diemisikan dari bahan-bahan bangunan, industri rumah tangga atau proses pembakaran. Formaldehid juga terdapat pada produk kayu yang dipres, papan, papan dinding, tekstil (seperti pada karpet dan pakaian). Formaldehid dapat masuk ke udara akibat terjadi pengikisan dan penguapan akibat panas yang tinggi.
4. Bahan-bahan pertikulat
Dalam kehidupan sehari-hari pertikulat dikenal dengan istilah debu yang berterbangan di udara. Partikulat juga bisa ditemui dalam bentuk logam-logam berta yang jika terhirup oleh manusia akan mengakibatkan penyakit.
5. Senyawa organik volatil (Volatil Organic Compound)
Senyawa organik volatil (VOC) mudah menguap pada suhu kamar. VOC sering ditemui dalam bentuk aerosol yang terdapat pada pembersih, cat, vernis, produk-produk kayu yang di-pres, pestisida, dan semir.
6. Karbon monoksida (CO)
Karbon monoksida atau CO adalah suatu gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan juga tidak berasa. Gas CO dapat berbentuk cairan pada suhu dibawah 129oC. Gas CO sebagian besar berasal dari pembakaran bahan fosil dengan udara, berupa gas buangan. Kota besar yang padat lalu lintasnya akan banyak menghasilkan gas CO sehingga kadar CO dalam uadra relatif tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan. Selain itu dari gas CO dapat pula terbentuk dari proses industri. Secara alamiah gas CO juga dapat terbentuk, walaupun jumlahnya relatif sedikit, seperti gas hasil kegiatan gunung berapi, proses biologi dan lain-lain.
Secara umum terbentuk gas CO adalah melalui proses berikut ini :
Pertama, pembakaran bahan bakar fosil.
Kedua, pada suhu tinggi terjadi reaksi antara karbondioksida (CO2) dengan karbon C yang menghasilkan gas CO.
Ketiga, pada suhu tinggi, CO2 dapat terurai kembali menjadi CO dan oksigen.
Penyebaran gas CO diudara tergantung pada keadaan lingkungan. Untuk daerah perkotaan yang banyak kegiatan industrinya dan lalu lintasnya padat, udaranya sudah banyak tercemar oleh gas CO. Sedangkan daerah pimggiran kota atau desa, cemaran CO diudara relatif sedikit. Ternyata tanah yang masih terbuka dimana belum ada bangunan diatasnya, dapat membantu penyerapan gas CO. Hal ini disebabkan mikroorganisme yang ada didalam tanah mampu menyerap gas CO yang terdapat diudara. Angin dapat mengurangi konsentrasi gas CO pada suatu tempat karena perpindahan ke tempat lain.
Karbon monoksida (CO) apabila terhisap ke dalam paru-paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang akan dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolisme, ikut bereaksi secara metabolisme dengan darah.
Seperti halnya oksigen, gas CO bereaksi dengan darah (hemoglobin) :
Hemoglobin + O2 -> O2Hb (oksihemoglobin)
Hemoglobin + CO -> COHb (karboksihemoglobin)
Konsentrasi gas CO sampai dengan 100 ppm masih dianggap aman jika waktu kontak hanya sebentar. Gas CO sebanyak 30 ppm apabila dihisap manusia selama 8 jam akan menimbulkan rasa pusing dan mual. Pengaruh karbon monoksida (CO) terhadap tubuh manusia ternyata tidak sama dengan manusia yang satu dengan yang lainnya. Konsentrasi gas CO disuatu ruang akan naik bila di ruangan itu ada orang yang merokok. Orang yang merokok akan mengeluarkan asap rokok yang mengandung gas CO dengan konsentrasi lebih dari 20.000 ppm yang kemudian menjadi encer sekitar 400-5000 ppm selama dihisap. Konsentrasi gas CO yang tinggi didalam asap rokok menyebabkan kandungan COHb dalam darah orang yang merokok jadi meningkat. Keadaan ini sudah barang tentu sangat membahayakan kesehatan orang yang merokok. Orang yang merokok dalam waktu yang cukup lama (perokok berat) konsentrasi COHb dalam darahnya sekitar 6,9%. Hal inilah yang menyebabkan perokok berat mudah terkena serangan jantung.
Pengaruh konsentrasi gas CO di udara sampai dengan dengan 100 ppm terhadap tanaman hampir tidak ada, khususnya pada tanaman tingkat tinggi. Bila konsentrasi gas CO di udara mencapai 2000 ppm dan waktu kontak lebih dari 24 jam, maka kana mempengaruhi kemampuan fiksasi nitrogen oleh bakteri bebas yang ada pada lingkungan terutama yang terdapat pada akar tanaman.
Penurunan kesadaran sehingga terjadi banyak kecelakaan, fungsi sistem kontrol syaraf turun serta fungsi jantung dan paru-paru menurun bahkan dapat menyebabkan kematian. Waktu tinggal CO dalam atmosfer lebih kurang 4 bulan. CO dapat dioksidasi menjadi CO2 dalam atmosfer adalah HO dan HO2 radikal, atau oksigen dan ozon. Mikroorganisme tanah merupakan bahan yang dapat menghilangkan CO dari atmosfer.
Dari penelitian diketahui bahwa udara yang mengandung CO sebesar 120 ppm dapat dihilangkan selama 3 jam dengan cara mengontakkan dengan 2,8 kg tanah (Human, 1971), dengan demikian mikroorganisme dapat pula menghilangkan senyawa CO dari lingkungan, sejauh ini yang berperan aktif adalah jamur penicillium dan Aspergillus.
Tampilkan postingan dengan label Kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kimia. Tampilkan semua postingan
Selasa, April 28, 2009
Kegunaan Asam Sulfat di Lab
Kegunaan Asam Sulfat di Lab
Kegunaan Asam Sulfat di Lab umumnya sebagai Reagent atau pereaksi yang umumnya digunakan di dalam suatu reaksi asam – basa atau reaksi lainnya. Asam sulfat banyak digunakan dalam industri. Cairan kental, amat korosif. Bereaksi dengan jaringan tubuh. Berbahaya bila kontak dengan kulit dan mata. Bereaksi hebat dengan air dan mengeluarkan panas (eksotermis). Bereaksi pula dengan logam, kayu, pakaian dan zat organik. Uapnya amat iritatif terhadap saluran pernapasan.Cara menetralisir asam sulfat? Berikut saya copy dari MSDS nya.
TERTELAN
Untuk saran, hubungi Pusat Informasi Racun atau dokter dangan segera.
Perawatan rumah sakit dengan segera sepertinya dibutuhkan.
Jika tertelan JANGAN lakukan rangsangan untuk muntah.
Jika terjadi muntah-muntah, Sandarkan pasien kedepan atau tempatkan pada posisi miring ke kiri (posisi kepala kebawah, jika mungkin) untuk menjaga saluran pernafasan tetap terbuka dan mencegah aspirasi.
Amati pasien dengan seksama.
Jangan pernah memberi cairan kepada korban yang menunjukkan tanda-tanda mengantuk atau berkurangnya kesadaran; contohnya pingsan.
Berikan air untuk menyegarkan mulut lalu berikan cairan secara perlahan-lahan sebanyak yang korban dapat minum.
Bawa korban ke rumah sakit atau dokter segera.
MATA
Jika produk ini mengaalami kontak dengan mata:
Segera buka dan tahan kelopak mata kemudian bilas mata dengan air yang mengalir selama berkali-kali.
Pastikan pemberian air secara menyeluruh dengan cara membuka kelopak mata dan juga menggerakan kelopak mata dengan cara mengangkat kelopak mata bagian bawah dan atas secara berulang-ulang
Lanjutkan pembilasan sampai disarankan untuk berhenti oleh Pusat Informasi racun atau dokter, atau setidaknya selama 15 menit.
Kirim korban ke rumah sakit dengan segera tanpa ditunda.
Pelepasan lensa kontak setelah cedera mata terjadi sebaiknya hanya dilakukan oleh personil yang ahli.
KULIT
Jika terjadi kontak dengan kulit atau rambut:
Segera bilas tubuh dan pakaian dengan air dalam jumlah besar/banyak.
Segera lepaskan semua pakaian yang terkontaminasi, termasuk sepatu/alas kaki.
Basuh kulit dan rambut dengan air mengalir. Lanjutkan pembilasan dengan air sampai disarankan untuk berhenti oleh Pusat Informasi Racun atau dokter.
Kirim ke rumah sakit atau dokter.
TERHIRUP
Jika uap atau hasil pembakaran dari produk ini terhirup, pindahkan korban dari area yang terkontaminasi.
Baringkan korban. Jaga agar tetap hangat dan beristirahat.
Prostheses seperti gigi palsu, yang dapat menghalangi saluran pernafasan harus dilepaskan, jika hal ini memungkinkan, terutama untuk melakukan prosedur pertolongan pertama.
Lakukan pernafasan buatan jika korban tidak bernafas, lebih diutamakan dengan menggunakan alat bantu pernafasan, seperti demand valve resuscitator, bag valve mask device, atau pocket mask sebagaimana telah dilatih. Lakukan CPR jika diperlukan.
Bawa ke rumah sakit atau dokter.
CATATAN UNTUK DOKTER
Untuk pemaparan yang berulang dan dalam jangka pendek atau akut kepada asam kuat:
Permasalahan pada saluran pernafasan dapat dimulai dari edema laryngeal dan akibat pemaparan melalui penghirupan. Rawatlah segera dengan oksigen 100%.
Kesulitan pernapasan dapat memerlukan cricothyroidotomy jika intubasi endotracheal adalah ter-kontraindikasikan oleh bengkak berlebihan
Jalur intravena harus dibentuk dengan segera dalam semua kasus di mana ada bukti terjadi ganguan dalam peredaran.
Asam kuat menghasilkan suatu pengentalan nekrosis yang dicirikan oleh pembentukan suatu koagulat (eschar) sebagai hasil dessikasi dari asam pada protein di dalam jaringan spesifik.
PROSES PENCERNAAN:
Segera berikan larutan (air atau susu) direkomendasikan dalam 30 menit setelah proses pencernaan.
DILARANG mencoba menetralisasi asam karena reaksi eksotermik dapat memperluas luka-luka.
Hati-hati untuk menghindari muntahan lebih lanjut karena pemaparan kembali mukosa kepada asam adalah berbahaya. Batasi pemberian larutan hanya boleh 1 sampai 2 gelas untuk orang dewasa.
Arang/batu bara tidak boleh ada dalam hal manajemen asam.
Beberapa penulis menyarankan penggunaan lavage dalam 1 jam setelah proses pencernaan.
KULIT:
Luka pada kulit memerlukan irigasi larutan garam yang berlimpah.
Perlakukan luka bakar kimia seperti luka bakar lainnya dengan menggunakan kain kasa tipis yang tidak menempel.
MATA:
Luka/cedera pada mata memerlukan retraksi kelopak mata untuk memastikan irigasi secara menyeluruh pada konjuktiva cul-de-sacs. Irigasi harus berlangsung sedikitnya 20-30 menit. DILARANG menggunakan bahan penetralisasi atau zat aditif lain. Beberapa liter larutan garam mungkin diperlukan.
Tetes mata antibiotik Sikloplegik, (1% siklopentolat untuk penggunaan jangka pendek atau 5% homatropin untuk penggunaan jangka panjang), bahan/agen vasokonstriktif atau air mata tiruan mungkin diperlukan tergantung kepada tingkat keparahan dari luka.
Tetes mata Steroid hanya perlu diberikan dengan persetujuan setelah konsultasi dengan dokter mata. [Ellenhorn and Barceloux: Medical Toxicology]
Kegunaan Asam Sulfat di Lab umumnya sebagai Reagent atau pereaksi yang umumnya digunakan di dalam suatu reaksi asam – basa atau reaksi lainnya. Asam sulfat banyak digunakan dalam industri. Cairan kental, amat korosif. Bereaksi dengan jaringan tubuh. Berbahaya bila kontak dengan kulit dan mata. Bereaksi hebat dengan air dan mengeluarkan panas (eksotermis). Bereaksi pula dengan logam, kayu, pakaian dan zat organik. Uapnya amat iritatif terhadap saluran pernapasan.Cara menetralisir asam sulfat? Berikut saya copy dari MSDS nya.
TERTELAN
Untuk saran, hubungi Pusat Informasi Racun atau dokter dangan segera.
Perawatan rumah sakit dengan segera sepertinya dibutuhkan.
Jika tertelan JANGAN lakukan rangsangan untuk muntah.
Jika terjadi muntah-muntah, Sandarkan pasien kedepan atau tempatkan pada posisi miring ke kiri (posisi kepala kebawah, jika mungkin) untuk menjaga saluran pernafasan tetap terbuka dan mencegah aspirasi.
Amati pasien dengan seksama.
Jangan pernah memberi cairan kepada korban yang menunjukkan tanda-tanda mengantuk atau berkurangnya kesadaran; contohnya pingsan.
Berikan air untuk menyegarkan mulut lalu berikan cairan secara perlahan-lahan sebanyak yang korban dapat minum.
Bawa korban ke rumah sakit atau dokter segera.
MATA
Jika produk ini mengaalami kontak dengan mata:
Segera buka dan tahan kelopak mata kemudian bilas mata dengan air yang mengalir selama berkali-kali.
Pastikan pemberian air secara menyeluruh dengan cara membuka kelopak mata dan juga menggerakan kelopak mata dengan cara mengangkat kelopak mata bagian bawah dan atas secara berulang-ulang
Lanjutkan pembilasan sampai disarankan untuk berhenti oleh Pusat Informasi racun atau dokter, atau setidaknya selama 15 menit.
Kirim korban ke rumah sakit dengan segera tanpa ditunda.
Pelepasan lensa kontak setelah cedera mata terjadi sebaiknya hanya dilakukan oleh personil yang ahli.
KULIT
Jika terjadi kontak dengan kulit atau rambut:
Segera bilas tubuh dan pakaian dengan air dalam jumlah besar/banyak.
Segera lepaskan semua pakaian yang terkontaminasi, termasuk sepatu/alas kaki.
Basuh kulit dan rambut dengan air mengalir. Lanjutkan pembilasan dengan air sampai disarankan untuk berhenti oleh Pusat Informasi Racun atau dokter.
Kirim ke rumah sakit atau dokter.
TERHIRUP
Jika uap atau hasil pembakaran dari produk ini terhirup, pindahkan korban dari area yang terkontaminasi.
Baringkan korban. Jaga agar tetap hangat dan beristirahat.
Prostheses seperti gigi palsu, yang dapat menghalangi saluran pernafasan harus dilepaskan, jika hal ini memungkinkan, terutama untuk melakukan prosedur pertolongan pertama.
Lakukan pernafasan buatan jika korban tidak bernafas, lebih diutamakan dengan menggunakan alat bantu pernafasan, seperti demand valve resuscitator, bag valve mask device, atau pocket mask sebagaimana telah dilatih. Lakukan CPR jika diperlukan.
Bawa ke rumah sakit atau dokter.
CATATAN UNTUK DOKTER
Untuk pemaparan yang berulang dan dalam jangka pendek atau akut kepada asam kuat:
Permasalahan pada saluran pernafasan dapat dimulai dari edema laryngeal dan akibat pemaparan melalui penghirupan. Rawatlah segera dengan oksigen 100%.
Kesulitan pernapasan dapat memerlukan cricothyroidotomy jika intubasi endotracheal adalah ter-kontraindikasikan oleh bengkak berlebihan
Jalur intravena harus dibentuk dengan segera dalam semua kasus di mana ada bukti terjadi ganguan dalam peredaran.
Asam kuat menghasilkan suatu pengentalan nekrosis yang dicirikan oleh pembentukan suatu koagulat (eschar) sebagai hasil dessikasi dari asam pada protein di dalam jaringan spesifik.
PROSES PENCERNAAN:
Segera berikan larutan (air atau susu) direkomendasikan dalam 30 menit setelah proses pencernaan.
DILARANG mencoba menetralisasi asam karena reaksi eksotermik dapat memperluas luka-luka.
Hati-hati untuk menghindari muntahan lebih lanjut karena pemaparan kembali mukosa kepada asam adalah berbahaya. Batasi pemberian larutan hanya boleh 1 sampai 2 gelas untuk orang dewasa.
Arang/batu bara tidak boleh ada dalam hal manajemen asam.
Beberapa penulis menyarankan penggunaan lavage dalam 1 jam setelah proses pencernaan.
KULIT:
Luka pada kulit memerlukan irigasi larutan garam yang berlimpah.
Perlakukan luka bakar kimia seperti luka bakar lainnya dengan menggunakan kain kasa tipis yang tidak menempel.
MATA:
Luka/cedera pada mata memerlukan retraksi kelopak mata untuk memastikan irigasi secara menyeluruh pada konjuktiva cul-de-sacs. Irigasi harus berlangsung sedikitnya 20-30 menit. DILARANG menggunakan bahan penetralisasi atau zat aditif lain. Beberapa liter larutan garam mungkin diperlukan.
Tetes mata antibiotik Sikloplegik, (1% siklopentolat untuk penggunaan jangka pendek atau 5% homatropin untuk penggunaan jangka panjang), bahan/agen vasokonstriktif atau air mata tiruan mungkin diperlukan tergantung kepada tingkat keparahan dari luka.
Tetes mata Steroid hanya perlu diberikan dengan persetujuan setelah konsultasi dengan dokter mata. [Ellenhorn and Barceloux: Medical Toxicology]
Label:
Kimia
Apa Bedanya Perasa Buatan dan Perasa Alami ?
Apa Bedanya Perasa Buatan dan Perasa Alami ?
Hanya ada sedikit perbedaan di komposisi kimia perasa alami dan buatan.Keduanya dibuat di laboratorium oleh profesional yang terlatih, seorang ‘ahli rasa’, yang mencampur bahan-bahan kimia yang tepat dengan proporsi yang akurat.
Seorang ahli rasa menggunakan bahan-bahan kimia alami untuk membuat perasa alami dan bahan-bahan kimia sintetis untuk membuat perasa sintetis. Tetapi, pada dasarnya, si ahli rasa harus menggunakan bahan-bahan kimia yang sama untuk formula perasa buatannya dengan bahan-bahan kimia yang ia gunakan pada saat ia membuat perasa alami. Kalau tidak, rasanya tidak akan menjadi seperti yang diinginkan.
Perbedaan antara ‘alami’ dan ‘buatan’ datang dari ‘sumber’ bahan-bahan kimia yang dipakai dalam proses pembuatan perasa ini. Ini bisa disamakan seperti menyebut apel yang dijual di hotel adalah buatan dan apel yang dijual di toko buah adalah alami.
Hal ini sering membingungkan konsumen karena banyak contoh kasus yang demikian dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, kita dapat membuat ‘zat pewarna’ berwarna biru tua dari ekstrak blueberry atau pigmen sintetis. Komposi kimia kedua zat perwarna ini sangat berbeda walaupun keduanya menghasilkan warna yang sama. Ini sama halnya seperti kaus yang terbuat dari bahan wol dan nilon. Keduanya adalah kaus, dengan komposisi kimia yang berbeda. Perbedaan seperti ini, tidak mungkin ada pada produksi perasa. Sebuah rasa tertentu hanya dapat diracik dari bahan-bahan kimia yang spesifik. Sehingga, bila anda membeli jus apel yang mengandung perasa buatan, anda akan mengkonsumsi bahan kimia yang sama seperti seandainya anda memilih untuk membeli jus apel dengan perasa natural.
Komposisi kimia perasa buatan lebih sederhana dan bahkan mungkin lebih aman karena hanya bahan-bahan kimia yang sudah lulus uji yang boleh digunakan untuk membuat makanan. Perbedaan lainnya ialah harga. Pencarian sumber perasa ‘alami’ kerap kali megharuskan produsen melewati proses yang sulit untuk memperoleh bahan kimia yang diinginkan.
Misalnya, perasa alami rasa kelapa, sangat bergantung pada bahan kimia bernama Massoya lactone. Massoya lactone dapat diperoleh dari kulit kayu pohon massoya, yang tumbuh di Malaysia. Untuk mendapatkan Massoya lactone, pohon massoya tersebut harus ditebang karena produsen harus menguliti batang pohon dan melakukan proses ekstraksi untuk mendapatkan senyawa lactone-nya, proses yang tentu saja memakan banyak biaya. Perasa alami seperti ini memiliki komposisi yang identik dengan perasa buatan yang lahir di laboratorium seorang ahli kimia organik, namun jauh lebih mahal daripada alternatif sintetisnya. Konsumen pun, pada akhirnya harus membayar mahal untuk perasa alami yang kualitasnya tidak lebih baik, tidak lebih aman dan tidak lebih murah daripada perasa buatan. (SI)
Hanya ada sedikit perbedaan di komposisi kimia perasa alami dan buatan.Keduanya dibuat di laboratorium oleh profesional yang terlatih, seorang ‘ahli rasa’, yang mencampur bahan-bahan kimia yang tepat dengan proporsi yang akurat.
Seorang ahli rasa menggunakan bahan-bahan kimia alami untuk membuat perasa alami dan bahan-bahan kimia sintetis untuk membuat perasa sintetis. Tetapi, pada dasarnya, si ahli rasa harus menggunakan bahan-bahan kimia yang sama untuk formula perasa buatannya dengan bahan-bahan kimia yang ia gunakan pada saat ia membuat perasa alami. Kalau tidak, rasanya tidak akan menjadi seperti yang diinginkan.
Perbedaan antara ‘alami’ dan ‘buatan’ datang dari ‘sumber’ bahan-bahan kimia yang dipakai dalam proses pembuatan perasa ini. Ini bisa disamakan seperti menyebut apel yang dijual di hotel adalah buatan dan apel yang dijual di toko buah adalah alami.
Hal ini sering membingungkan konsumen karena banyak contoh kasus yang demikian dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, kita dapat membuat ‘zat pewarna’ berwarna biru tua dari ekstrak blueberry atau pigmen sintetis. Komposi kimia kedua zat perwarna ini sangat berbeda walaupun keduanya menghasilkan warna yang sama. Ini sama halnya seperti kaus yang terbuat dari bahan wol dan nilon. Keduanya adalah kaus, dengan komposisi kimia yang berbeda. Perbedaan seperti ini, tidak mungkin ada pada produksi perasa. Sebuah rasa tertentu hanya dapat diracik dari bahan-bahan kimia yang spesifik. Sehingga, bila anda membeli jus apel yang mengandung perasa buatan, anda akan mengkonsumsi bahan kimia yang sama seperti seandainya anda memilih untuk membeli jus apel dengan perasa natural.
Komposisi kimia perasa buatan lebih sederhana dan bahkan mungkin lebih aman karena hanya bahan-bahan kimia yang sudah lulus uji yang boleh digunakan untuk membuat makanan. Perbedaan lainnya ialah harga. Pencarian sumber perasa ‘alami’ kerap kali megharuskan produsen melewati proses yang sulit untuk memperoleh bahan kimia yang diinginkan.
Misalnya, perasa alami rasa kelapa, sangat bergantung pada bahan kimia bernama Massoya lactone. Massoya lactone dapat diperoleh dari kulit kayu pohon massoya, yang tumbuh di Malaysia. Untuk mendapatkan Massoya lactone, pohon massoya tersebut harus ditebang karena produsen harus menguliti batang pohon dan melakukan proses ekstraksi untuk mendapatkan senyawa lactone-nya, proses yang tentu saja memakan banyak biaya. Perasa alami seperti ini memiliki komposisi yang identik dengan perasa buatan yang lahir di laboratorium seorang ahli kimia organik, namun jauh lebih mahal daripada alternatif sintetisnya. Konsumen pun, pada akhirnya harus membayar mahal untuk perasa alami yang kualitasnya tidak lebih baik, tidak lebih aman dan tidak lebih murah daripada perasa buatan. (SI)
Label:
Kimia
Langganan:
Postingan (Atom)
