Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, Mei 19, 2009

MAKALAH PENDEKATAN REALISTIK

BAB I
PENDAHULUAN
OLEH: ALPHIAN SAHRUDDIN
DILEMA MUTU PENDIDIKAN INDONESIA DAN SOLUSINYA


Beberapa kali, siswa dari Indonesia memenangkan ajang kompetisi matematika ataupun mata pelajaran lainnya. Bahwa itu adalah sebauah prestasi, kita tidak bisa memungkiri. Tetapi kita juga tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan sesungguhnya. Para pemenang kompetisi itu bukanlah siswa yang bisa mewakili kemampuan siswa Indonesia pada umumnya. Dalam artian, kesenjangan antara para siswa pemenang kompetisi internasional itu dengan kebanyakan siswa di Indonesia sangatlah besar.

Mutu pendidikan Indonesia berada dalam dilema. Di satu sisi, pemerintah ingin meningkatkan standar kompetensi lulusan, tetapi jika standar ditingkatkan, maka tingkat kelulusan siswa hampir bisa dipastikan anjlok. Di sisi lain, pemerintah juga tidak ingin banyak siswa yang tidak lulus, maka standar kelulusanpun diturunkan. Akan tetapi, cara ini adalah cara yang tidak cerdas. Sesungguhnya yang harus dilakukan pemerintah adalah tetap mengupayakan peningkatan standar kelulusan, sebagai konsekuensinya, pemerintah juga harus berupaya meningkatkan kualitas siswa, agar mampu menjangkau standar kelulusan tersebut.

Tidak terkecuali dalam matematika. Terlebih lagi hingga saat ini matematika masih merupakan monster yang sangat menakutkan bagi sebagian besar siswa.
Matematika sebagai induk dari ilmu pengetahuan, seharusnya tidak ditakuti. Dan memang tidak ada yang perlu ditakutkan dari matematika.

Permasalahan ini tidak bisa hanya dilihat dalam satu sudut pandang saja. Maksudnya begini, kita tidak boleh menilai dilema mutu pendidikan matematika ini hanya disebabkan oleh ’matematika yang sulit’. Karena, jika kita berbicara tentang pendidikan matematika, tidak bisa terlepas dari tiga bahasan utama; matematika itu sendiri, bagaimana matematika diajarkan, dan bagaimana siswa belajar matematika.

Dengan demikian, jika pemerintah menurunkan standar kelulusan untuk mata pelajaran matematika, maka hal itu menunjukkan bahwa pemerintah masih memandang pendidikan matematika hanya dari sudut pandang ’matematika itu memang sulit’. Tentu saja hal ini tidak akan terjadi jika kita memandang pendidikan matematika secara komprehensif. Tentunya, kebijakan-kebijakan yang akan diambilpun tidak hanya sekedar menurunkan standar kelulusan untuk meningkatkan jumlah kelulusan. Tetapi kebijakan yang diambil juga menyangkut setidaknya tiga hal berikut ini;
1.Apa itu matematika; artinya materi apa saja yang layak dimasukkan ke dalam bidang pembahasan matematika; juga menyangkut penjenjangan materi matematika, dan lainnya.
2.Bagaimana guru mengajarkan matematika; meliputi kemampuan yang harus dimiliki guru untuk menyajikan matematika agar tidak lagi menyeramkan/
3.Bagaimana cara siswa mempelajari matematika; meliputi aspek psikologis siswa dalam hal kegiatan belajar mengajar.

Jika sudut pandang kita tentang pendidikan matematika telah kita luruskan, maka yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah menentukan pendekatan apa saja yang paling efektif untuk pembelajaran matematika tertentu, bagaimana aplikasinya dalam aktivitas pembelajaran, dan bagaimana metode pengujiannya.

BAB II
PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Teori Konstruktifisme

Prinsip utama teori ini adalah bahwa ilmu pengetahuan (dalam hal ini matematika), dibangun sendiri oleh siswa secara induktif. Kita tidak lagi menilai siswa sebagai kertas kosong yang bisa kita coret-coret sesuka hati, atau seperti gelas kosong yang bisa kita isi cairan apapun semau kita. Sesungguhnya siswa memiliki konsep awal (ma’lumat sabiqat) terhadap konsep yang akan kita ajarkan. Pada perjalanannya nanti, bisa jadi konsep awal yang dimiliki siswa itu sesuai dengan yang seharusnya, atau malah bertentangan dengan konsep yang ingin kita bangun.

Sebagai contoh sederhana, ketika kita ingin membicarakan tentang satuan suatu ukuran, kita tidak bisa langsung menyampaikan bahwa satuan yang kita gunakan di sini adalah meter, gram, liter, dan satuan standar lainnya. Karena bisa saja siswa memiliki konsep satu jengkal, dua hasta, tiga depa, atau empat langkah dalam menyatakan jarak atau panjang. Atau bisa jadi mereka sudah memiliki konsep berat sebutir kurma adalah seberat sebutir kelereng. Jadi satuanya bukan gram atau pon, tapi kelereng.

Kita harus menggunakan satuan-satuan tidak standar yang dimiliki oleh siswa itu, untuk kemudian kita tunjukkan ketidak-konsistenannya. Kemudian kita jelaskan bahwa agar satuan yang kita gunakan sama dengan yang digunakan orang lain, maka diperlukan satuan standar, agar kemanapun kita pergi, emas seberat 5 gram akan tetap dihargai 5 gram, tanah seluas 200 meter persegi, tetap dihargai 200 meter persegi. Teknik ini mirip dengan teknik kungfu, menggunakan energi atau gerakan lawan, untuk mematahkan atau mengunci gerakan lawan itu sendiri.

Menurut pandangan konstruktifis, belajar tidak terfokus pada perolehan pengetahuan yang banyak. Sehingga seorang guru konstruktifis tidak terlalu dipusingkan dengan capaian kurikulum yang begitu padat. Baginya, tidak ada manfaatnya memaksakan siswa untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya tanpa adanya pemahaman yang melekat.

Menurut teori ini juga, guru bukan seseorang yang harus selalu diikuti jawabannya. Di dalam kelas konstruktifis para siswa diberdayakan oleh pengetahuannya sendiri. Mereka berbagi strategi penyelesaian, berdiskusi, melakukan penyelidikan untuk menyelesaikan setiap masalah, atau bahkan membantah pendapat temannya atau guru sekalipun.

Disamping konstruktifisme, pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) juga merupakan teori yang menunjang pendekatan realistik. Jika konstruktifisme menyangkut urutan membangun pemahaman, maka CTL adalah teori yang berkaitan dengan materi matematika dikaitkan dengan kehidupan nyata. Permasalahan-permasalahan yang dimunculkan bukanlah permasalahan yang abstrak, tetapi merupakan permasalahan yang sehari-harinya dialami oleh siswa. Ketika menjelaskan persamaan linear, misalnya, guru tidak boleh langsung memperkenalkan konsep 2x + 3y = 8 dan x + 2y = 5. Guru bisa (bahkan harus) memulainya dengan masalah keseharian siswa. Berikut contohnya:

Saat jam istirahat sekolah, Japrut dan Soplo beli jajanan di dekat pagar sekolah. Japrut membeli dua biji pentol dan sepotong tahu, ia harus membayar 1200. sedangkan Soplo membeli tiga potong tahu dan sebiji pentol, ia harus membayar 1100. berapa harga sebiji pentol dan berapa harga sepotong tahu?

Pertanyaan tersebut termasuk dalam permasalahan kontekstual, mengaitkan konsep persamaan linear dengan keseharian yang sangat dekat dengan siswa, yaitu membeli pentol saat istirahat sekolah.

TIGA HAL TERKAIT PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Seperti sudah disinggung dalam pendahuluan, jika kita membicarakan pendidikan matematika, maka tidak terlepas dari tiga hal, yaitu materi ajar, kemampuan guru, dan daya tangkap siswa.

Materi Ajar
Materi ajar harus diperlukan oleh siswa dan harus sesuai dengan taraf berpikir siswa pada periodenya. Kita tidak bisa mengajarkan konsep dimensi tiga kepada anak SD, sebagaimana tidak mungkin membahas matematika diskrit untuk anak SMP. Kita juga tidak akan memaksa anak-anak TK atau SD kelasi 1 untuk belajar matematika. Karena pada tahapan usia ini, anak-anak sedang intensif memahami bahasa. Mereka sedang belajar menyampaikan emosi dan pikiran mereka secara verbal.

Ada sebuah video penelitian yang sangat menarik untuk disimak. Video ini mendukung teori yang diusung dalam RME, bahwa ilmu merupakan sebuah skemata. Ketika seseorang memulai belajar, maka sebuah aliran listrik harus melompati jurang antara dua sel saraf. Proses penyeberangan pertama adalah proses yang paling sulit, kedua dan ketiga adalah proses yang masih sulit, barulah pada proses keempat, kelima dan keenam, belajar jadi lebih mudah.

Dengan memahami bahwa proses memulai belajar adalah sesuatu yang sangat sulit, tentu kita tidak akan keliru dalam menentukan materi ajar yang cocok untuk periode usia belajar masing-masing siswa.

GURU; TEKNIK MENGAJAR

Memahami Siswa
Selain memahami bahwa belajar memerlukan tahapan, seorang guru juga harus berupaya memahami siswa. Ada cerita menarik yang dituliskan dengan sangat cantik oleh Salim A Fillah dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang. Ada seorang anak TK yang setiap harinya mewarnai kertas gambarnya dengan warna hitam. Di saat teman-temannya tengah menggambar gunnung, laut, atau sungai, dia tetap saja mewarnai kertas gambar ukuran A3-nya dengan warna hitam pekat. Di rumah, ternyata anak aneh ini terus saja melanjutkan kegilaannya, hingga orangtuanya harus bolak-balik toko alat tulis, karena kehabisan krayon warna hitam. Merasa cemas dengan kejiwaan anaknya, orangtuanya membawanya ke psikiater. Kemudian tim psikiater menyuruh anak aneh itu meneruskan hobinya yang mengerikan itu. Semakin gila. Anak tersebut semakin bernafsu mewarnai setiap kertas A3 yang diberikan padanya dengan warna hitam, hanya saja dengan kepekatan yang berbeda.

”Aha!” serunya setelah menyelesaikan karya hitamnya yang ke 400. dia meminta tim psikiater untuk menyusun kertas-kertas hitam itu sesuai panduannya, 20 horizontal, 20 vertikal. Menakjubkan, ternyata kertas-kertas hitam berukuran A3 itu adalah sebuah puzzle, yang jika disusun dengan benar akan menjadi gambar seekor paus bongkok, dalam ukuran aslinya.

Menakjubkan bukan? Ya, dan anak seperti itu tak cuma ada satu orang di dunia ini. Andai saja guru yang menghadapi anak itu tidak mengerti dengan ‘keanehan anak itu, mungkin guru tersebut akan mencap bahwa anak tersebut memiliki kepribadian yang gelap.

Terlebih lagi dalam matematika. Ada beribu cara untuk mencapai satu kesimpulan yang sama dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Seorang guru harus memahami bahwa siswa mungkin saja menjawab dengan cara yang tidak diajarkannya sekalipun. Selama alur logika yang digunakan siswa dalam menyelesaikan soal tersebut juga benar. Maka, menjadi guru yang baik, adalah menjadi guru yang mampu memahami cara berpikir siswa yang mungkin berbeda.

Memahami Materi Dan Target
Ada yang tak kalah penting dengan kemampuan guru memahami siswa, yaitu memahami materi ajar. Adalah tidak lucu jika seorang guru tiba-tiba kikuk di depan kelas karena tidak mampu menjawab pertanyaan siswanya.

Guru juga harus memahami target yang ingin dicapai dari pembelajaran. Sehingga guru tidak akan berlarut-larut dalam permasalahan sepele yang bisa membelokkan tujuan pembelajaran.

Guru Harus Mengerti Teknik Penyampaian Yang Baik
Hal lain yang sangat penting untuk disimak adalah teknik penyampaian. Banyak guru yang sangat menguasai materi ajar, tetapi dia tidak mengerti bagaimana menyampaikannya dengan baik. Seperti halnya seorang penembak yang memiliki peluru-peluru yang hebat, tetapi tidak mengerti bagaimana caranya menembakkan perluru tersebut agar tepat sasaran. Banyak guru yang datang ke kelas sekedar untuk membacakan materi yang telah disusunnya, menuliskan contoh soalnya, menyampaikan cara menyelesaikannya, memberikan soal pada siswa, meminta siswa mengerjakannya di depan kelas, dan seterusnya dengan datar-datar saja. Bagaimana siswa bisa tertarik dengan pelajaran, jika guru yang menyampaikannya saja tidak menarik? Karena itu, menjadi keharusan bagi seorang guru matematika untuk menguasai teknik menyampaikan materi dengan baik.

Siap Dikoreksi
Dalam pendekatan realistik, guru tidak sebagai dewa kebenaran, hanya sebagai fasilitator. Pendapat guru tidak lagi harus ditelan mentah-mentah. Kita sebagai guru juga tidak lagi terlalu dipusingkan dengan pendapat siswa yang bertentangan dengan kita. Jika memang alur logika yang digunakan oleh siswa lebih kuat dibandingkan dengan pendapat kita, maka mengakui kelemahan pendapat kita adalah sebuah kebijaksanaan.

Jika kita tetap berkeras dengan pendapat kita yang terbukti salah, maka siswa akan berpikir bahwa kita adalah guru yang keras kepala. Di kesempatan berikutnya, siswa tidak lagi tertarik untuk bertanya, apalagi mempertanyakan. Dan yang paling berbahaya adalah jika siswa tidak lagi berminat dengan pelajaran kita.

Empati
Sebuah penelitian sederhana dari seorang motivator dari Surabaya, N. Syarif Faqih, menunjukkan betapa dahsyatnya empati dan berupaya empati. Masing-masing perserta berhadap-hadapan dengan seorang peserta lainnya. Satu orang diminta bergerak, duduk, menunduk, atau melakukan apa saja yang diinginkannya. Sementara pasangannya diminta mengikuti semirip mungkin gerakan orang itu. Menakjubkan, setelah beberapa lama, masing-masing pasangan tersebut menjadi sejiwa. Ketika motivator bertanya kepada si peniru tentang apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan oleh orang yang ditirunya, ternyata jawabannya tepat. ”Dia sedang memikirkan biaya kuliahnya, dia juga memikirkan biaya untuk berobat isterinya”. Tepat, setelah dicek, memang itulah yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang yang disuruh bergerak-gerak tadi.

Dalam pembelajaran matematika, pendekatan empati tentu sangat diperlukan. Empati adalah berupaya memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan siswa. Jika kita berempati pada siswa, kita tidak akan memaksa siswa untuk menyelesaikan soal yang rumit dalam batasan waktu yang tidak manusiawi. Jika kita berempati pada siswa, kita akan berupaya memainkan intonasi bicara agar siswa mampu menangkap apa yang kita sampaikan. Jika kita berempati pada siswa, kita akan mengerti bahwa siswa memiliki daya tangkap yang berbeda-beda terhadap suatu materi ajar, sehingga kita tidak menyamaratakan mereka.

SISWA; TEKNIK BELAJAR

Bertahap Sesuai Usia
Tentang tahapan usia belajar, sudah sempat disinggung di bagian sebelumnya. Kita perlu menelaah lagi, apakah penjenjangan usia belajar yang ada saat ini sudah cocok dengan karakter psikologis maupun kognitif siswa itu sendiri. Apakah memang sudah tepat jika kita membaginya enam tahun di sekolah dasar, 3 tahun di sekolah menengah pertama dan tiga tahun di sekolah menengah atas. Ada batasan yang menurut para psikolog sangat momentous. Momentous adalah sesuatu yang sangat bisa membelokkan kita. Dan dalam penjenjangan usia belajar, hal yang paling momentous adalah pubertas, yaitu masa transisi dari anak ke remaja. Biasanya, pubertas terjadi bukan pada masa SMP, melainkan pada masa-masa akhir jenjang SD. Pubertas ini sangat berpengaruh terhadap fisik anak, terlebih lagi terhadap kejiwaannya. Adalah wajar, jika pubertas begitu mengganggu anak di akhir sekolah dasarnya. Padahal masa-masa itulah yang sangat genting, karena pada masa itu mereka harus menempuh ujian akhir. Jika kemudian hasil ujiannya tidak memuaskan, kemungkinan besar itu merupakan pengaruh dari pubertas tersebut.

Belajar adalah Membangun Jalan (Konstruktif-Induktif)
Bahwa belajar adalah membangun jalan, kita sudah menyinggungnya di bagian sebelumnya. Hanya saja penekanannya di sini adalah, guru harus menjadi perantara bagi siswa untuk membangun jalan belajarnya. Guru harus aktif mengontrol perkembangan siswa, guru harus betul-betul merancang strategi terbaik agar proses ’pembangun jalan’ tersebut berjalan lancar. Jangan sampai guru malah menciutkan semangat belajar siswa dengan perkataan, tindakan, ataupun sekedar tatapan merendahkan.

Wahyudin, penulis buku-buku parenting, pernah menceritakan pengalaman beliau dalam mendidik anaknya. Anak sulungnya menanam biji jagung, tetapi masalahnya yang ditanam bukan benih jagung, tetapi biji jagung bakar, dengan harapan akan tumbuh pohon jagung di samping rumahnya. Wahyudin tidak langsung menghentikan kreatifitas anaknya dengan mengatakan bahwa itu tindakan konyol, tetapi beliau memberikan suatu tantangan kepada anaknya, apakah nanti jagungnya bisa tumbuh atau tidak. Akhirnya anaknya mendapat pelajaran sendiri, karena setelah ditunggu-tunggu, pohon jagung tak juga tumbuh. Kita bisa bayangkan, apa yang akan terjadi seandainya beliau langsung menghentikan tindakan konyol anaknya tersebut. Bisa jadi semangat konstruktif anaknya akan mati. Anak akan jera untuk melakukan hal-hal baru. Anak tidak lagi berpikir untuk membangun pengetahuannya.

Begitupula dalam proses pembelajaran kita. Biarkanlah anak menyelesaikan permasalahan matematika dengan caranya. Jika dengan cara itu dia tidak dapat menyelesaikannya, barulah kita menawarkan sebuah solusi (yang sebenarnya adalah konsep yang sudah ada) untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Kurva Konsentrasi
Penting bagi seorang guru untuk memahami kurva konsentrasi. Jika dinyatakan dalam bentuk grafik, dengan sumbu x adalah waktu dan sumbu y adalah tingkat konsentrasi, maka kurva konsentrasi siswa membentuk sebuah para bola terbuka ke atas. Pada awal-awal kita membuka pelajaran (sekitar 15 menit pertama), konsentrasi siswa sedang berada di puncaknya. Tetapi setelah 20 menit, 30 menit, hingga satu jam kemudian, konsentrasi siswa makin rendah, hingga mencapai titik terendahnya di pertengahan pembelajaran di kesempatan itu. Dan biasanya konsentrasi akan kembali membaik menjelang akhir peertemuan, terutama saat guru menunjukkan tanda-tanda ingin menutup pelajaran.

Kita harus memahami itu. Jika kita mengajar dengan datar saja, tentu konsentrasi siswa akan sampai pada titik terrendahnya. Karena itu, setiap limabelas menit, diperlukan sebuah kejutan untuk mempertahankan konsentrasi siswa. Jika tidak, jangan salahkan siswa jika mereka tidak bisa menangkap dengan baik apa yang kita sampaikan.

Teknik Mempertahankan Konsentrasi Siswa
1.Permainan
Ada beberapa keuntungan belajar dengan menggunakan permainan, berikut di antaranya:
Meningkatkan pemahaman
Meningkatkan konsentrasi
Meningkatkan proses berfikir
Meningkatkan kerja otak
Menyenangkan dan menantang

2.Media / alat peraga
Berikut ini adalah keuntungan yang didapat dari penggunaan media pembelajaran;
Membuat siswa tertarik dengan pelajaran
Membantu siswa memahami konsep-konsep abstrak menjadi lebih sederhana
Meringankan kerja guru
Siswa bisa lebih aktif dalam proses belajar mengajar

3.Humor yang edukatif
Selama ini kita beranggapan bahwa ekspresi wajah adalah cerminan dari perasaan hati. Itu benar, tetapi tidak lengkap. Karena ternyata ekspresi wajah juga mampu memberikan pengaruh pada perasaan hati. Dalam matematika, hubungan antara ekspresi wajah dan perasaan adalah biimplikasi, masing-masing saling mempengaruhi.
Sebuah penelitian unik mampu membuktikan teori ini. Saat itu dihadirkan dua kelompok responden untuk menonton film kartun yang sama. Hanya saja, mereka menonton dengan ekspresi yang berbeda. Kelompok pertama, diminta menggigit pensil dengan giginya, yang menyebabkan mereka berekspresi seperti orang tersenyum. Sedangkan kelompok kedua, diminta menjepit pensil dengan bibirnya, yang menyebabkan mereka berekspresi sebagaimana orang yang sedang cemberut.
Hasilnya menakjubkan. Semua responden yang berekspresi tersenyum (karena menggigit pensil) menyatakan bahwa kartun tersebut sangat lucu. Sedangkan kelompok yang berekspresi cemberut (karena menjepit pensil dengan bibirnya) menyatakan bahwa kartun tersebut tidak lucu sama sekali.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekspresi mempengaruhi perasaan hati seseorang. Karena itu, dalam pembelajaran matematika, guru bertanggungjawab membuat siswa selalu berekspresi positif (tersenyum dan antusias). Karena jika siswa tersenyum, materi yang kita sampaikan akan lebih mudah diterima oleh siswa.

Namun, seorang guru juga harus memperhatikan etika dalam memilih humor. Pastikan humor yang kita berikan adalah humor yang mendidik. Atau jika tidak bisa menemukan humor yang mendidik, pastikan bukan humor yang bermuatan negatif.

BAB III
PENILIAIAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA


Penilaian atau pengujian adalah strategi dalam pemecahan masalah pembelajaran melalui pengumpulan dan penganalisisan informasi untuk pengambilan keputusan berkaitan dengan semua aspek pembelajaran.

Selama ini kita salah kaprah dengan peniliaian. Kita sering beranggapan bahwa penilaian hanya tentang angka-angka pada lembar jawaban siswa, atau pada tugas-tugas yang diberikan tiap minggunya, dan hal-hal menyangkut kemampuan tertulis lainnya. Jika begitu, sempit sekali pemahaman kita tentang penilaian. Penilaian bukanlah sekedar tes di akhir pembelajaran, namun harus terlaksana pada saat pembelajaran berlangsung

Dilihat dari definisinya, ada beberapa kata kunci yang harus ada dalam penilaian, yaitu:
1.Pengumpulan informasi;
2.Penganalisisan informasi;
3.Mengambil keputusan;

Berdasarkan definisi itu, penilaian hanya akan bisa dilakukan jika memenuhi ketiga syarat itu. Sebuah pendekatan atau metode pembelajaran, dikatakan berhasil dalam metode penilaiannya jika mampu melingkupi ketiga kata kunci di atas. Artinya, metode tersebut harus mampu untuk membantu guru mengumpulkan informasi, harus mampu membantu guru menganalisa informasi yang telah dikumpulkan, dan hasil analisa tersebut, harus mampu membantu guru mengambil keputusan pembelajaran.

Ada masalah penting dalam penilaian, yaitu merancang alat penilaian yang mampu merefleksikan hasil belajar siswa. Menurut Susan Mc. Kenney dan kawan-kawannya dalam buku Instructional Design Research, salah satu permasalahan yang sering menghalangi keberhasilan pembelajaran adalah inkoherensi antara masing-masing educational policy, yaitu guru, sekolah dan metode pengujian.

Pendekatan matematika realistik dianggap tidak berhasil diterapkan di Indonesia (jika keberhasilan hanya diukur dengan kemampuan siswa menjawab soal UAN), disebabkan oleh ketidak-cocokan antara metode pembelajaran yang digunakan, dengan jenis soal yang diujikan.

Soal, sebagai salah satu alat uji yang paling mudah digunakan, sering tidak mampu mengukur keberhasilan belajar siswa. Karena itu, diperlukan bantuan instrumen lain untuk mengukur keberhasilan pembelajaran matematika, yaitu observasi, bertanya, wawancara, tugas, asesmen diri, hasil pekerjaan siswa, jurnal, tes, dan portofolio.

Karena hasil akhir dari penilaian adalah untuk mengambil keputusan mengenai seluruh aspek pembelajaran matematika, maka, semua instrument penilaian di atas harus betul-betul digunakan untuk mengambil keputusan, terkait pendekatan pembelajaran yang akan digunakan berikutnya dan metode pengujian yang cocok digunakan untuk pendekatan tersebut.
Untuk pendekatan pembelajaran realistik, pengujian dengan soal jenis multiple choice, tidak tepat digunakan, karena jenis soal tersebut sering tidak bisa menunjukkan kualitas siswa. Bisa saja siswa mendapatkan nilai bagus karena kebetulan secara tidak sengaja memilih pilihan jawaban yang tepat.

Soal dengan jenis uraian cukup bagus untuk menguji keberhasilan belajar siswa. Begitu juga dengan ujian lisan, kita bisa meminta siswa untuk menjelaskan apa yang dia pahami dari materi yang telah dipelajari. Metode seperti ini mampu untuk merefleksikan hasil belajar siswa.

PENUTUP

Meski unggul dalam mengembangkan kemampuan siswa, tetapi pendekatan pembelajaran realistik bukan berarti tanpa tantangan. Karena dengan metode pengujian yang lebih kualitatif, guru akan kesulitan memberikan skor untuk keberhasilan siswa dalam belajarannya. Mungkin kita perlu membiasakan penilaian yang tak lagi diwakili oleh angka-angka. Karena selama ini, skor (berupa angka) tersebut digunakan untuk menentukan batasan kelulusan dan untuk memberikan tingkatan prestasi di antara siswa. Sedangkan dalam Pendekatan Realistik, hasil belajar siswa tidak dibandingkan dengan siswa lainnya, melainkan dibandingkan dengan kriteria kelulusan yang telah ditentukan. Berarti, tinggal satu lagi permasalahan kita, yaitu bagaimana membuat kriteria kelulusan yang kualitatif, yang tidak selalu dibatasi dengan angka. Dan tentu ini merupakan sebuah tantangan bagi kita yang peduli dengan kualitas pembelajaran di negeri kita.

DAFTAR PUSTAKA

Hadi, Sutarto. 2004. Pendidikan Matematika Realistik. Banjarmasin: Penerbit Tulip.

Kenney, Susan Mc., dkk. 2007. Instructional Design Research

Abernathy, Rob, dkk. Hot Tips; 25 Ways to Enchance Your Effectiveness as a
Communicator

Fillah, Salim A. 2008. Jalan Cinta Para Pejuang. Yogyakarta: Pro U Media

Fillah, Salim A. 2006. Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro U Media

Wahyudin, 2005. Maa Aku Bisa!. Yogyakarta; Pro U Media.

Selasa, Mei 05, 2009

Pengembangan KTSP Melalui Strategi Pembelajaran Kontekstual

Seiring dengan berlakunya era otonomi daerah serta dalam rangka penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, pemerintah telah merumuskan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Mulai 2006 yang lalu, pemerintah telah menerapkan KTSP secara serentak di sekolah-sekolah setelah melalui uji coba sejak tahun 2004 di beberapa sekolah tertentu, melalui embrio KBK.KTSP memiliki konsep pendekatan pembelajaran yang berbeda dengan kurikulum 1994, yaitu berbasis kompetensi dimana fokus program sekolah adalah pada siswa serta apa yang akan dikerjakan oleh mereka dengan memperhatikan kecakapan hidup (life skill) dan pembelajaran kontekstual. Dalam pengembangannya, seluruh elemen sekolah dan masyarakat perlu terlibat secara langsung, antara lain kepala sekolah, komite sekolah, guru, karyawan, orang tua siswa serta siswa.Sebuah kurikulum tidak hanya sekedar instruksi pembelajaran yang disusun oleh pemerintah untuk diterapkan di sekolah masing-masing. Sinclair (2003) menegaskan bahwa kurikulum yang baik adalah yang memberi keleluasaan bagi sekolah untuk mengakomodasikan kebutuhan-kebutuhan khusus peserta didik sesuai tuntutan lingkungan masyarakatnya. Oleh karena itu, sekolah memiliki wewenang penuh dalam mengimplementasikan berbagai pendekatan maupun metode dalam proses belajar mengajar.Salah satu unsur terpenting dalam penerapan KTSP sangat tergantung pada pemahaman guru untuk menerapkan strategi pembelajaran kontekstual di dalam kelas. Akan tetapi, fenomena yang ada menunjukkan sedikitnya pemahaman guru mengenai strategi ini. Oleh karena itu diperlukan suatu model pengajaran dengan menggunakan pembelajaran kontekstual yang mudah dipahami dan diterapkan di kelas secara sederhana.Pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan yang atau peristiwa yang akan terjadi disekelilingnya. Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer imu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok.Dalam kurikulum berbasis kompetensi, guru dapat menggunakan strategi pembelajaran kontekstual dengan memperhatikan beberapa hal, yaitu: memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa, lebih mengaktifkan siswa dan guru, mendorong berkembangnya kemampuan baru, menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat. Melalui pembelajaran ini, siswa menjadi lebih responsif dalam menggunakan pengetahuan dan ketrampilan di kehidupan nyata sehingga memiliki motivasi tinggi untuk belajar.
Beberapa strategi pengajaran yang dapat dikembangkan oleh guru melalui pembelajaran kontekstual, antara lain:
1. Pembelajaran berbasis masalah
Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, siswa terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul. Setelah itu, tugas guru adalah merangsang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan perspektif yang berbeda dengan mereka.
2. Memanfaatkan lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar
Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan siswa antara lain di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar di luar kelas. Misalnya, siswa keluar dari ruang kelas dan berinteraksi langsung untuk melakukan wawancara. Siswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran.
3. Memberikan aktivitas kelompok
Aktivitas belajar secara kelompok dapat memperluas perspektif serta membangun kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain. Guru dapat menyusun kelompok terdiri dari tiga, lima maupun delapan siswa sesuai dengan tingkat kesulitan penugasan.
4. Membuat aktivitas belajar mandiri
Peserta didik tersebut mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru. Supaya dapat melakukannya, siswa harus lebih memperhatikan bagaimana mereka memproses informasi, menerapkan strategi pemecahan masalah, dan menggunakan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Pengalaman pembelajaran kontekstual harus mengikuti uji-coba terlebih dahulu; menyediakan waktu yang cukup, dan menyusun refleksi; serta berusaha tanpa meminta bantuan guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara mandiri (independent learning).
5. Membuat aktivitas belajar bekerjasama dengan masyarakat
Sekolah dapat melakukan kerja sama dengan orang tua siswa yang memiliki keahlian khusus untuk menjadi guru tamu. Hal ini perlu dilakukan guna memberikan pengalaman belajar secara langsung dimana siswa dapat termotivasi untuk mengajukan pertanyaan. Selain itu, kerja sama juga dapat dilakukan dengan institusi atau perusahaan tertentu untuk memberikan pengalaman kerja. Misalnya meminta siswa untuk magang di tempat kerja.
6. Menerapkan penilaian autentik
Dalam pembelajaran kontekstual, penilaian autentik dapat membantu siswa untuk menerapkan informasi akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada situasi nyata untuk tujuan tertentu. Menurut Johnson (2002: 165), penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari selama proses belajar-mengajar. Adapun bentuk-bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru adalah portfolio, tugas kelompok, demonstrasi, dan laporan tertulis.
Portfolio merupakan kumpulan tugas yang dikerjakan siswa dalam konteks belajar di kehidupan sehari-hari. Siswa diharapkan untuk mengerjakan tugas tersebut supaya lebih kreatif. Mereka memperoleh kebebasan dalam belajar. Selain itu, portfolio juga memberikan kesempatan yang lebih luas untuk berkembang serta memotivasi siswa. Penilaian ini tidak perlu mendapatkan penilaian angka, melainkan melihat pada proses siswa sebagai pembelajar aktif. Sebagai contoh, siswa diminta untuk melakukan survey mengenai jenis-jenis pekerjaan di lingkungan rumahnya.
Tugas kelompok dalam pembelajaran kontekstual berbentuk pengerjaan proyek. Kegiatan ini merupakan cara untuk mencapai tujuan akademik sambil mengakomodasi perbedaan gaya belajar, minat, serta bakat dari masing-masing siswa. Isi dari proyek akademik terkait dengan konteks kehidupan nyata, oleh karena itu tugas ini dapat meningkatkan partisipasi siswa. Sebagai contoh, siswa diminta membentuk kelompok proyek untuk menyelidiki penyebab pencemaran sungai di lingkungan siswa.
Dalam penilaian melalui demonstrasi, siswa diminta menampilkan hasil penugasan kepada orang lain mengenai kompetensi yang telah mereka kuasai. Para penonton dapat memberikan evaluasi pertunjukkan siswa. Sebagai contoh, siswa diminta membentuk kelompok untuk membuat naskah drama dan mementaskannya dalam pertunjukan drama.
Bentuk penilaian yang terakhir adalah laporan tertulis. Bentuk laporan tertulis dapat berupa surat, petunjuk pelatihan teknis, brosur, essai penelitian, essai singkat.
Menurut Brooks&Brooks dalam Johnson (2002: 172), bentuk penilaian seperti ini lebih baik dari pada menghafalkan teks, siswa dituntut untuk menggunakan ketrampilan berpikir yang lebih tinggi agar dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.Berdasarkan penjabaran yang telah dikemukakan diatas, kurikulum berbasis kompetensi perlu dikembangkan supaya dapat diterapkan secara efektif di dalam proses belajar mengajar. Guru sebagai pelaksana kurikulum dapat menerapkan strategi pembelajaran kontekstual supaya dapat memberikan bentuk pengalaman belajar. Dengan demikian, siswa diharapkan dapat memiliki kecakapan untuk memecahkan permasalahan hidup sesuai dengan kegiatan belajar yang mengarahkan siswa untuk terlibat secara langsung dalam konteks rumah, masyarakat maupun tempat kerja.
Keberhasilan penerapan pembelajaran kontekstual perlu melibatkan berbagai pihak. Dalam hal ini, penulis menyarankan supaya pihak sekolah dan masyarakat memiliki kesadaran akan pentingnya beberapa hal, yaitu:sumber belajar tidak hanya berasal dari buku dan guru, melainkan juga dari lingkungan sekitar baik di rumah maupun di masyarakat; strategi pembelajaran kontekstual memiliki banyak variasi sehingga memungkinkan guru untuk mengembangkan model pembelajaran yang berbeda dengan keajegan yang ada; pihak sekolah dan masyarakat perlu memberikan dukungan baik materiil maupun non-materiil untuk menunjang keberhasilan proses belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Johnson, Elaine B. 2002. Contextual Teaching and Learning: What is is and why it’s here to stay. United states of America: Corwin Press, Inc.

Pembelajaran Kontekstual

A. Latar belakang
Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual

B. Pemikiran tentang belajar
Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.
1. Proses belajar
•Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkontruksi pengetahuan di benak mereka.
•Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.
•Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan.
•Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
•Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
•Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
•Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang.
2. Transfer Belajar
•Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain.
•Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit)
•Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu
3. Siswa sebagai Pembelajar
•Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.
•Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.
•Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui.
•Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.
4. Pentingnya Lingkungan Belajar
•Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan.
•Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya.
•Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar.
•Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

C. Hakekat Pembelajaran Kontekstual
Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)

D. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
1.Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
2.Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat

E. Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional
Kontekstual

1.Menyandarkan pada pemahaman makna.
2.Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa.
3.Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
4.Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan.
5.Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa.
6.Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang.
7.Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok).
8.Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
9.Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman.
10.Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri. yang bersifat subyektif.
11.Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut merugikan.
12.Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik.
13.Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting.
14.Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik.
Tradisional
1.Menyandarkan pada hapalan
2.Pemilihan informasi lebih banyak ditentukan oleh guru.
3.Siswa secara pasif menerima informasi, khususnya dari guru.
4.Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis, tidak bersandar pada realitas kehidupan.
5.Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan.
6.Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu.
7.Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas, mendengar ceramah, dan mengisi latihan (kerja individual).
8.Perilaku dibangun atas kebiasaan.
9.Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan.
10.Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor.
11.Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman.
12.Perilaku baik berdasarkan motivasi entrinsik.
13.Pembelajaran terjadi hanya terjadi di dalam ruangan kelas.
14.Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.

F. Penerapan Pendekatan Kontekstual Di Kelas
Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
1.Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
2.kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
3.Ciptakan masyarakat belajar.
4.Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
5.Lakukan refleksi di akhir pertemuan
6.Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara

G. Tujuh Komponen Pembelajaran Kontekstual
1. Konstruktivisme
•Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal.
•Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan
2. Inquiry
•Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman.
•Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
3. Questioning (Bertanya)
•Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.
•Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry
4. Learning Community (Masyarakat Belajar)
•Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar.
•Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri.
•Tukar pengalaman.
•Berbagi ide
5. Modeling (Pemodelan)
•Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar.
•Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
6. Reflection ( Refleksi)
•Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari.
•Mencatat apa yang telah dipelajari.
•Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
7. Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya)
•Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa.
•Penilaian produk (kinerja).
•Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual

H. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
•Kerjasama
•Saling menunjang
•Menyenangkan, tidak membosankan
•Belajar dengan bergairah
•Pembelajaran terintegrasi
•Menggunakan berbagai sumber
•Siswa aktif
•Sharing dengan teman
•Siswa kritis guru kreatif
•Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain
•Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain

I. Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya.
Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.
Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut.
1.Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar.
2.Nyatakan tujuan umum pembelajarannya.
3.Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu
4.Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa
5.Nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran.

SUPERVISI PENDIDIKAN

A. PENGERTIAN SUPERVISI
■ Arti morfologis
Supervision (inggris) :
Super : atas, vision : visi
Jadi supervise artinya : lihat dari atas
■ Arti semantik
Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar pada khususnya.
Menurut keputusan mentri pendidikan dan kebudayaan nomor 0134/0/1977, temasuk kategori supervisor dalam pendidikan adalah kepala sekolah, penelik sekolah, dan para pengawas ditingkatkan kabupaten/kotamadya, serta staf di kantor bidang yang ada di tiap provinsi.
Salah satu tugas pengawas dengan perincian sebagai berikut :
“mangendalikan pelaksanaan kurikulum meliputi isi, metode penyajian, penggunaan alat perlengkapan dan penilaian agar sesuai dengan ketentuan dan peraturan perudangan yang berlaku”.
Pada rambu-rambu penilaian kinerja kepala sekolah (SD), dirjen dikdasmen tahun 2000 sebagai berikut :
1. kemampuan menyusun program supervisi pendidikan
2. kemampuan malaksanakan program supervisi pendidikan
3. kemampuan memanfaatkan hasil supervise
pada dasarnya tugas pokok kepala sekolah adalah menilai dan membina penyelenggaraan pembelajaran di sekolah. Dengan kata lain salah satu tugas kepala sekolah sebagai pembinaan yang dilakuakan memberikan arahan, contoh dalam proses pembelajaran di sekolah. Berarti bahwa kepala sekolah merupakan supervisor yang bertugas melaksanakan supervisi pembelajaran.
Willes (1975), mengatakan di atas bertujuan untuk memelihara atau mengadakan perubahan oprasional sekolah, dengan cara mampengaruhi tenaga pengajar secara langsung demi mempertinggi kegiatan belajar siswa. Supervise hanya berhubungan langsung dengan guru, tetapi berkaitan siswa dalam proses belajar
Ross L (1980), mendefinisikan bahwa supervisi adalah pelayanan kapada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan pengajaran, pembelajaran dan kurikulum.
Purwanto (1987), supervise ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif.
Sesuai dengan rumusan diatas maka kegiatan yang dapat disimpulkan dalam supervisi pembelajaran sebagai berikut :
1. membangkitkan dan merangsang semangat guru-guru menjalankan tugasnya terutama dalam pembelajaran.
2. mengembangkan kegiatan belajar mengajar.
3. upaya pembinaan dalam pembelajaran

INSPEKSI DAN SUPERVISI
Inspeksi : inspectie (belanda) yang artinya memeriksa
Orang yang menginsipeksi disebut inspektur
Inspektur dalam hal ini mengadakan :
→ Controlling : memeriksa apakah semuanya dijalankan sebagaimana mestinya
→ Correcting : memeriksa apakah semuanya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan/digariskan
→ Judging : mengandili dalam arti memberikan penilaian atau keputusan sepihak
→ Directing : pengarahan, menentukan ketetapan/garis
→ Demonstration : memperlihatkan bagaimana mengajar yang baik
Orang yang melakukan supervise disebut supervisor. Dibidang pendidikan disebut supervisor pendidikan.
Supervisi bercirikan :
Research :meneliti situasi sebenarnya disekolah
Evalution : penilaian
Improvement :mengadakan perbaikan
Assiatance :memberikan bantuan dan bimbingan
Cooperation :kerjasama antara supervisor dan supervised ke arah perbaikan situasi
Kepengawasan pendidikan di Indonesia dewasa ini mengalami masa transisi dari inspeksi kea rah supervise yang dicita-citakan. Yang disebut supervisor pendidikan bukan hanya para pejabat/petugas dari kantor pembinaan, kepala sekolah, guru-guru dan bahkan murid pun dapat disebut sebagai supervisor, bila misalnya diserahi tugas untuk mengetuai kelas atau kelompoknya.

B. PRINSIP-PRINSIP SUPERVISI PENDIDIKAN
1. Prinsip-prinsip fundamental
Pancasila merupakan dasar atau prinsip fundamental bagi setiap supervisor pendidikan Indonesia. Bahwa seorang supervisor haruslah seorang pancasilais sejati.
2. Prinsip-prinsip praktis
a. Negatif
Tidak otoriter
Tidak berasas kekuasaan
Tidak lepas dari tujuan pendidikan
Bukan mencari kesalahan
Tidak boleh terlalu cepat mengharapkan hasil
b. Positif
Konstruktif dan kreatif
Sumber secara kolektif bukan supervisor sendiri
Propessional
Sanggup mengembangkan potensi guru dkk
Memperhatikan kesejahteraanguru dkk
Progresif
Memperhitungkan kesanggupan supervised
Sederhana dan informal
Obyektif dan sanggup mengevaluasi diri sendiri

C. TUJUAN SUPERVISI PENDIDIKAN
1. Tujuan umum
Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia dewasa yang sanggup berdiri sendiri.
Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia pembangunan dewasa yang berpancasila.
Perbaikan situasi pendidikan dan pengajaran pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar pada khususnya.
2. Tujuan khusus
Membantu guru-guru lebih memahami tujuan pendidikan yang sebenarnya
Membantu guru-guru untuk dapat lebih memahami dan menolong murid
Memperbesar kesnggupan guru mendidik murid untuk terjun ke msyarakat
Memperbesar kesadaran guru terhadap kerja yang demokratis dan kooperatif
Membesar ambisi guru untuk berkembang
Membantu guru-guru untuk memanfaatkan pengalaman yang dimiliki
Memperkenalkan karyawan baru kepada sekolah
Melindungi guru daru tuntutan tak wajar dari masyarakat
Mngembangkan professional guru

D. FUNGSI SUPERVISI PENDIDIKAN
1. Penelitian (research) → untuk memperoleh gambaran yang jelas dan objektif tentang suatu situasi pendidikan
Perumusan topik
Pengumpulan data
Pengolahan data
Konlusi hasil penelitian
2. Penilaian (evaluation) → lebih menekankan pada aspek daripada negative
3. Perbaikan (improvement) → dapat mengatahui bagaimana situasi pendidikan/pengajaran pada umumnya dan situasi belajar mengajarnya.
4. Pembinaan → berupa bimbingan (guidance) kea rah pembinaan diri yang disupervisi

E. TEKHNIK SUPEERVISI PENDIDIKAN
1. Tekhnik kelompok : cara pelaksanaan supervise terhadap sekelompok orang yang disupervisi
2. Tekhnik perorangan : dilakukan terhadap individu yang memiliki masalah khusus.

F. METODE SUPERVISI
1. Metode langsung : alat yang digunakan mengenai sasaran supervise
2. Metode tak langsung : mempergunakan berbagai alat perantara (media)

G. TEKHNIK DAN METODE YANG LAIN
1. Kunjungan sekolah (school visit)
Akan memberikan pengatahuan yang lengkap tentang situasi sekolah sehingga program akan lebih efektif.
2. Kunjungan kelas (class visit)
Merupakan suatu metode supervise yang “to the point” kena sasaran
3. Pertemuan individual
Setelah suatu kunjungan berakhir, hendaklah diadakan pembicaraan langsung dan pribadi tentang hasil kunjungan dengan orang yang dikunjungi.
4. Rapat sekolah
Untuk membicarakan kepentingan murid dan sekolah dan hal-hal yang berhubungan dengan sekolah
5. Pendidikan ini service
Untuk kepentingan mutu mrngajar dan belajar, maka guru perlu mengembangkan pengetahuan sesuai dengan profesinya dengan berbagai cara. Misalnya : study individual, study grops, menghadiri ceramah, mengadakan intervisitasi dsb.
6. Workshop (musyawarah kerja_muker)
Untuk mengembangkan professional karyawan (in-service)
7. Intervisitas
Saling kunjung-memgunjungi sesama guru untuk mengobservasi situasi belajar masing-masing
8. Demonstrasi mengajar
Metode ini dapat dilakukan oleh supervisor sendiri atau oleh guru yang ahli untuk memperkenalkan metode mengajar yang efektif.
9. Bulletin supervisi
Bulletin berkala dapat dimanfaatkan untuk perbaikan program pendidikan dan penngajaran, bisa mingguan atau bulanan.
10. Bulletin bord
- pengumuman administrative
- pengunguman supervise
- pengunguman untuk murid
- dsb
11. Kunjungan rumah
Tujuannya untuk mempelajari bagaimana situasi hidup orang yang disupervisi di rumah terutama meneliti masalah-masalah yang secara langsung atau tak langsung mempengaruhi tugas/kewajiban orang yang disupervisi itu.

H. PROGRAM SUPERVISI PEDIDIKAN
Suatu program supervisi pendidikan adalah rangka program perbsikan pendidikan dan pengajaran.
1. perancanaan
Perancaan adalah pemikiran dan perumusan tentang apa, bagaimana, mengapa, siapa, kapan dan dimana.
a. prinsip-prinsip : kooperatif, kreatif, komprehensif, flexible, kontinu
b. Syarat-syarat :
tilikan jelas tentang tujuan pendidikan
pengetahuan tentang mengajar yang baik
pengetahuan tentang pengalaman belajar murid
pengetahuan tentang guru-guru
pengetahuan tentang murid-murid
pengaetahuan tentang masyarakat
pengetahuan tentang sumber-sumber fisik
factor biaya
factor waktu
c. proses : merumuskan what, why, how, who, when, where
2. organisasi program
a. pola-pola :
→ horizontal
→ vertical
b. langkah-langkah mengorganisir program :
persiapakan suasana
pertimbangan situasi
penyusunan program
pembagian tanggung jawab
perwujudan program
pembinaan perkembangan program
integrasikan program dengan masyarakat
persiapan program evaluasi
3. evaluasi
Evaluasi dalam hubungannya dengan pendidikan adalah menentukan sampai dimana tujuan-tujuan pendidikan yang ditetapkan telah tercapai.
a. prinsip-prinsip
rencana harus komprehensif
penyusunan harus kooperatif
program harus kontinu dan berinteraksi dengan kurikulum
lebih menggunakan data yang objektif daripada yang subyektif
menghargai para participant
b. proses
merumuskan tujuan evaluasi
menyeleksi alat-alat evaluasi
menyusun alat-alat evaluasi
menerapkan alat-alat evaluasi
mengelola hasil
menyimpulkan
c. aspek-aspek yang dievaluasi :
peronil → murid, guru, karyawan, wali murid, kepsek, supervise
materiil → kurikulum, perlengkapan sekolah, administrasi, perlengkapan murid
operational → proses kepemimpinan, proses mengajar, usaha kesejahtraan personil, usaha integrasi sekolah dan masyarakat
4. alat-alat :
a. Objektif :
ujian karangan (essay examination)
ujian objektif
b. lebih ke subjektif
observasi
wawancara
angket
checklist dan rating-scale
laporan pribadi dan tekhnik projektif
catatan-catatan anekdot
catatan-catatan komulatif
case study
sosiometri
laporan stenografis
buku-buku catatan
kotak saran
rapat-rapat supervise

I. JENIS-JENIS SUPERVISI
Beberapa jenis supervisi antara lain :
1. observasi kelas
2. saling kunjung
3. demontrasi mengajar
4. supervisi klinnis
5. kaji tindak (action research)

J. PELAKSANAAN SUPERVISI PEMBELAJARAN .
Observasi kelas
observasi kelas merupakan salah satu cara paling baik memberikan supervisi pembelajaran Karen dapat melihat kegiatan guru, murid dan masalah yang timbul.
1. perancanaan
Kepala sekolah merencanakan dalam menyusun program dalam satu semester atau tahunan. Program tidak terlalu kaku, tergantung dari jumlah guru yang perlu di observasi. Ada tiga macam observasi yaitu dengan pemberitahuan, tanpa pemberitahuan, dan atas undangan.
2. mekanisme observasi
a. persiapan yang diperhatikan :
- guru diberi tahu kepala sekolah bahwa kepala sekolah akan mengadakan observasi
- kesepakatan kepala sekolah dan guru tolak ukur tentang apa yang dioservasi
b. sikap observasi didalam kelas
- memberikan salam kepada guru yang mengajar
- mencari tempat duduk yang tidak mencolok
- tidak boleh menegur kesalahan guru di dalam kelas
- mencatat setiap kegiatan
- bila ada memakai alat elektronika : tape recorder, kemera
- mempersiapkan isian berupa check list
c. membicarakan hasil observasi
hasil yang dicatat dibicarakan dengan guru, dan beberapa hal yang diperlu dikemukankan :
- kepala sekolah mempersiapkan (bisa bertanya pada nara sumber atau perpustakaan)
- waktu percakapan
- tempat percakapan
- sikap ramah simpatik tidak memborong percakapan
- percakapan hendaknya tidak keluar dari data observasi
- guru diberi kesempatan dialog dan mengeluarkan pendapat
- kelamahan guru hendaknya menjadi motivasi guru dalam memperbaiki kelemahan
- saran untuk perbaikan diberikan yang mudah dan praktis
- kesepakatan perbaikan disepakati bersama dengan menyenangkan.
d. laporan percakapan
- hasil pembicaraan didokumenkan menurut masing-masing guru yang telah diobservasi
- isi dokumen dimulai dari tanggal, tujuan data yang diperoleh, catatan diskusi, pemecahan masalah dan saran-saran
 Saling mengunjungi
Dalam kegiatan belajar mengajar sudah ada wadah dari kegiatan untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kemampuan pembelajaran guru-guru antara lain :
1. untuk tingkat SMP dan SMA adalah musyawarah guru mata pelajaran (MGMP)
2. untuk tingkat Sekolah Dasar adalah Pusat kegiatan guru (PKG)
 Domonstrasi mengajar
Dalam kegiatan pembelajaran sangat sukar menentukan mana yang benar dalam praktek mengajar karena mengajar menurut Siswoyo (1997) sebagai seni dan filusuf. Menurut pendapat diatas mengajar dalam pekerjaan disekolah bukan pekerjaan yang mudah, sehingga kepala sekolah dalam demonstrasi pembelajaran tidak perlu mengakui kelemahan dan perlu mencarikan ahli yang dapat memberikan gambaran tentang pembelajaran yang baik

 Supervisi klinis
Supervisi klinis termasuk bagian dari supervisi pengajaran. Perbedaannya dengan supervisi yang lain adalah prosedur pelaksanaannya ditekankan kepada mencari sebab-sebab atau kelemahan yang terjadi dalam proses pembelajaran dan kemudian langsung diusahkan perbaikan kekurangan dan kelemahan tersebut.
Pelaksanaan supervisi klinis menurut la sulo (1987), mengemukakan ciri-ciri supervisi sebagai berikut :
1. bimbingan supervisor kepada guru bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi.
2. ksepakatan antara guru dan supervisor tentang apa yang dikaji dan jenis keterampilan yang paling pointing (diskusi guru dengan supervisor)
3. instrument dikembangkan dan disepakati bersama antara guru dengan supervisor
4. guru melakukan persiapan dengan aspek kelemahan-kelemahan yang akan diperbaiki. Bila perlu berlatih diluar sekolah
5. pelaksanaannya seperti dalam teknik observasi kelas
6. balikan diberikan dengan segera dan bersifat obyektif
7. guru hendaknya dapat menganalisa penampilannya
8. supervisor lebih banyak bertanya dan mendengarkan daripada memerintah atau mengarahkan
9. supervisor dan guru dalam keadaam suasanan intim dan terbuka
10. supervisor dapat digunakan untuk membentuk atau peningkatan dan perbaikan keterampilan pembelajaran

 Kaji tindak
Fokos utama kajia tindak adalah mendorong para prektisi untuk meneliti dan terlibat dalam praktik penelitiannya sendiri. Hasil penelitiannya dipakai sendiri oleh peneliti dan orang lain yang membutuhkan
Menurut kemmi (1995), kaji tindak dirumuskan dalam empat tahap yaitu : tahap perencanaan, tahap aksi atau pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan, tahap evaluasi danrefleksi/umpan balik.
Laporan hasil penelitian kaji tindak terdiri dari :
1. gagasan umum
2. perumusan masalah
3. perencanaan penelitian kaji tindak
4. pelaksanaan penelitian kaji tindak
5. monitoring
6. evaluasi dan refleksi
7. saran dan rekomendasi

K. PERANGKAT SUPERVISI
Salah satu perangkat yang digunakan dalam melaksankan supervisi ialah instrument observasi pembelajaran/check list terutama untuk supervisi kelas, supervisi klinis, dengan demikian diharapkan indicator yang diamati untuk setiap unsure yang diamati, antara lain :
A. Persiapan dan aperisepsi
B. Relevansi materi dengan tujuan instruksional
C. Penguasaan materi
D. Strategi
E. Metode
F. Manajemen kelas
G. Pemberian metivasi kepada siswa
H. Nada dan suara
I. Penggunaan bahasa
J. Gaya dan sikap perilaku


SUPERVISI PENDIDIKAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mandiri
Pada mata kuliah Administrasi Pendidikan

Disusun oleh :

Alphian Sahruddin
064 704 222

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKSSAR
2009

Pemilu dalam Pandangan Islam

________________________________________
Pemilu dalam Pandangan Islam
Hukum Menjadi Anggota Parlemen
Bila syarat-syarat untuk menjadi anggota parlemen nyata-nyata bertentangan dengan Islam, tentu kita tidak bisa menyatakan bahwa keanggotaan kaum muslim di dalam parlemen hanya dijadikan sebagai wasilah untuk menyuarakan aspirasi dan pendapat, sehingga syarat yang bathil pun boleh diterima. Dengan kata lain, calon wakil rakyat absah-absah saja menerima syarat-syarat bathil itu selarna tujuannya adalah untuk melakukan koreksi dan memperjuangkan aspirasi Islam.
Pernyataan semacam ini adalah pernyataan bathil yang tidak sejalan dengan ‘aqidah dan syariat Islam. Perjuangan untuk menegakkan kalimat Allah yang suci tidak boleh ditempuh dengan ?cara-cara keji dan bertentangan dengan syariat Islam.
Di sisi yang lain, keanggotaan dalam parlemen mengharuskan dirinya untuk bertanggungjawab terhadap semua keputusan yang terlahir dari parlemen. Jika parlemen membuat keputusan yang bertentangan dengan syariat Islam misalnya, undang-undang perbankan ribawiy, maka seluruh anggota parlemen bertanggungjawab atas keputusan itu. Walaupun keputusan itu tidak disetujui oleh beberapa wakil rakyat dari partai Islam, akan tetapi ketika keputusan itu telah ditetapkan, maka ia tetap dianggap sebagai keputusan parlemen, bukan keputusan atas nama sebagian anggota parlemen. Lantas, dalam kondisi semacam ini apa yang dilakukan oleh anggota parlemen muslim?
Dalam kondisi semacam ini setiap anggota parlemen yang konsens dengan syariat Islam harus keluar dari keanggotaan parlemen, dan tidak boleh hanya sekedar melakukan walk out; jika dirinya tidak bisa mencegah lahirnya keputusan-keputusan yang tidak islamiy. Sebab, seorang muslim harus menghindarkan diri dari keputusan-keputusan yang bertentangan dengan syariat Islam.
Imam Nawawiy dalam syarah shahih Muslim, ketika menjelaskan hadits Rasulullah saw, “Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ?hendaknya ia ubah dengan lisannya. Jika ia tidak mampu mengubah dengan lisannya, maka ubahlah dengan hati; dan ini adalah selemah-lemahnya iman.”[HR. Muslim]; menyatakan, bahwa maksud mengubah dengan hati di sini tidak cukup berdiam diri dan menolak dalam hati, akan tetapi ia harus menghindari kemungkaran tersebut. Maksudnya adalah, jika seseorang tidak mampu mengubah kemungkaran dengan tangan dan lisannya, maka ia harus menghindarkan diri dan tidak ikut campur dan teriibat di dalamnya, Misalnya, tatkala ada sekelompok orang sibuk membincangkan dan memutuskan aturan-aturan yang bertentangan dengan Islam, maka jika dirinya tidak mampu mengubah keputusan itu, maka ia harus keluar dari forum tersebut dan menunjukkan sikap ketidaksenangannya. Ia tidak diperkenankan tetap duduk, atau bahkan menjadi anggota forum tersebut, meskipun hatinya menolak. [Imam Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, lihat tentang bab al-Iimaan]
Para khalifah di masa kejayaan Islam menjatuhkan hukuman cambuk bagi orang yang berada di dalam majelis khamer, meskipun ia tidak ikut serta minum dan hatinya menolak. Para ulama memahami bahwa berdiam diri atau tetap berada di dalam majelis kemaksiatan sama artinya dengan melibatkan diri dalam kemaksiatan itu sendiri. Dalam sebuah sabdanya, Rasulullah saw. menggambarkan orang yang berdiam diri terhadap kemungkaran dengan setan bisu.
Haramnya seorang muslim berada dalam suatu forum yang mengolok-olok ayat-ayat Allah Swt., telah ditegaskan oleh Allah Swt. di dalam al-Quran al-Karirn. Dalam surat al-An’am ayat 68 disebutkan:
Jika kamu melihat orang-orang yang mengolok-olok ayat-ayat Kami, maka berpalinglah kamu dari mereka, hingga mereka mengalihkan kepada pembicaraan lain. Dan jika kalian dilupakan setan (sehingga kamu duduk di forum itu), maka, setelah kamu ingat, janganlah kalian duduk bersama-sama orang yang dzalim itu. [al-An'am: 68].
Ayat ini diperkuat juga dengan firman Allah Swt. dalam surat An-Nisaa’: 140
Dan sungguhnya Ia telah menurunkan atas kamu, di dalam al-Kitab ini,“Bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah tidak dipercayai, dan diperolok-olok, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, hingga mereka masuk kepada pembicaraan lain; sebab, jika kalian melakukan seperti itu maka kamu seperti mereka“ [al-Nisaa': 140]
Dalam menafsirkan surat al-An’am ayat 68, Ali Al-Shabuniy menyatakan, “Jika engkau melihat orang-orang kafir mengolok-olok al-Quran dengan kebohongan dan kedustaan dan olok-olok, ?maka janganlah kalian duduk dan berdiri bersama mereka sampai mereka mengatakan kepada perkataan lain, dan meninggalkan olok-olokan dan pendustaannya.“[Ali al-Shabuniy, Shafwaatal-Tafaasir, juz I, hal.397] Imam al-Suddiy berkata, “Saat itu orang-orang musyrik jika duduk bersama orang-orang mukmin, dan membicarakan tentang Nabi saw. dan al-Quran, orang-orang musyrik itu lantas mencela dan mengolok-oloknya. Setelah itu, Allah Swt. memerintahkan kaum mukmin untuk tidak duduk bersama mereka, sampai mereka mengalihkan kepada pembicaraan lainnya.” [Imam al-Thabariy, Tafsir Thabariy, juz II, hal.437]
Dalam menafsirkan surat al-Nisaa’:140, Ali al-Shabuniy berkata, “Telah diturunkan kepada kalian, suatu perintah yang sangat jelas bagi orang-orang yang nyata-nyata beriman. Perintah itu adalah; jika kalian mendengar al-Quran diingkari dan diolok-olok oleh orang-orang kafir dan para pengolok, maka janganlah kalian duduk bersama orang-orang yang mempermainkan ayat-ayat Allah itu, sampai mereka mengalihkan pada pembicaraan lain dan tidak lagi mengolok-olok al-Quran. Namun, jika kalian tetap duduk bersama mereka, maka kalian tidak ubahnya dengan mereka dalam hal kekufuran” [Ali al-Shabuniy, Shafwaat al-Tafaasir, juz I, hal. 312]
Ayat-ayat di atas dilalahnya qath‘iy. Dari sisi hukum kita bisa menyimpulkan, bahwa orang yang duduk di suatu forum yang mengolok-olok ayat-ayat Allah, dan mengingkari ayat-ayat Allah, sementara forum itu tidak pernah berubah untuk meng-ingat Allah, maka siapapun yang ada di dalamnya -meskipun hatinya menolak- telah terjatuh kepada tindakan haram. Haramnya duduk bersama orang-orang yang mengolok-olok, dan mengingkari ayat-ayat Allah, di-qarinahkan {diindikasikan) dengan firmanNya, “sebab, [jika kalian melakukan seperti itu] maka kamu seperti mereka” [al-Nisaa': 140]
Tidak ada keraguan sedikitpun, setiap orang yang terlibat dalam dan berdiam diri terhadap forum-forum seperti itu, telah terjatuh kepada tindak keharaman, dan berserikat dalam kekufuran.
Lantas, apakah fakta parlemen kita sudah terkategori sebagai forum yang mengolok-olok dan mengingkari ayat-ayat Allah Swt., sehingga bisa diberlakukan hukum yang terkandung dalam surat al-An’am:68 dan al-Nisaa’:140? Jawabnya: parlemen kita telah terkategori sebagai forum yang mengolok-olok ayat-ayat Allah Swt. Ini didasarkan pada kenyataan berikut ini;
Pertama; MPR di negeri ini bertugas (sesuai dengan ketetapan MPR) mengangkat presiden dan wakil presiden. Apakah tindakan semacam ini tidak tergolong tindakan mengolok-olok dan mengingkari ayat-ayat Allah dan sunnah Rasulullah. Sebab, pemimpin kaum muslim bukanlah presiden, raja, atau PM; akan tetapi khalifah/Imam/Amirul Mukminin. Sistem pemerintahan dalam Islam pun bukan presidensil, akan tetapi sistem Khilafah ?Islamiyyah. Lantas, apakah dibenarkan secara syar’iy, ada sekelompok orang berbondong-bondong menjadi anggota sebuah majelis untuk menelorkan produk-produk yang bertentangan dengan syari’at Allah; bahkan, memilih pemimpin dan mencgakkan sistem pemerintahan yang sangat bertentangan dengan Islam? Jawabnya sangat jelas: haram.
Kedua; mekanisme pengambilan keputusan di dalam parlemen didasarkan pada prinsip suara mayoritas (voting). Apakah prinsip ini dibenarkan dalam Islam?
Dalam hal-hal tertentu mekanisme pengambilan keputusan memang didasarkan pada suara terbanyak. Misalnya, hal-hal yang berkenaan dengan aktivitas-aktivitas praktis dan hal-hal yang tidak membutuhkan penelitian dan kajian mendalam. Rasulullah saw. pemah mengambil keputusan berdasarkan suara mayoritas untuk menetapkan apakah kaum muslim bertahan di dalam kota atau di luar kota.
Selain perkara di atas, keputusan tidak boleh ditetapkan berdasarkan mekanisme voting. Contoh dari perkara yang tidak boleh ditetapkan berdasarkan voting adalah perkara-perkara yang telah ditetapkan status hukumnya berdasarkan nash-nash syara’. Misalnya, kewajiban mengerjakan sholat lima waktu telah ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang qathiy. Pertanyaannya, apakah dalam pelaksanaan sholat lima waktu kita harus menunggu hasil voting terlebih dahulu? Kita tidak mungkin menjawab, bahwa untuk memutuskan apakah sholat harus dikerjakan atau tidak, harus didasarkan pada hasil voting terlebih dahulu. Sungguh, siapa saja yang menvoting, apakah sholat itu perlu dikerjakan atau tidak, maka dirinya telah terjatuh kepada perbuatan haram.
Keterangan ini semakin menguatkan bahwa, selama mekanisme dan aturan main parlemen bertentangan dengan Islam dan tidak pernah berubah, maka seorang muslim diharamkan menjadi anggotanya dan duduk-duduk di dalamnya, meskipun hatinya menolak dengan cara walk out. Pertanyaan berikutnya adalah, apa hukum berwakalah dengan seseorang yang mau menerima syarat-syarat yang bathil? Dcngan kata lain, bolehkah kita memilih seseorang untuk menyuarakan syariat Islam, sementara itu wakilnya tersebut mengakui syarat-syarat yang tidak Islamiy?
Jawabnya, akad semacam telah batal dari sisi asasnya. Sebab, jika kita tetap berwakalah dengan dirinya, sama artinya kita mengiyakan syarat-syarat non syar’iy yang telah diterima oleh calon wakil rakyat. Oleh karena itu, aqad wakalah yang dijalin dengan calon wakil rakyat yang mengiyakan syarat-syarat bathil adalah aqad yang bathal dan tidak boleh dilanjutkan. Mencalonkan diri atau orang lain untuk menjadi anggota parlemen meskipun ditujukan untuk menggunakan salah satu fungsi parlemen, yakni fungsi koreksi dan muhasabah, merupakan tindakan haram yang bertentangan dengan syari’at Islam.
Benar, melakukan koreksi dan muhasabah merupakan kewajiban setiap kaum muslim. Akan tetapi, dalam melakukan koreksi dan muhasabah, seorang muslim mesti terikat dengan aturan-aturan Allah Swt. dan menggunakan cara dan wasilah yang sejalan dengan prinsip-prinsip syariah.
Seandainya berkecimpung dalam pemilu dan parlemen adalah haram, lantas, apakah ada jalan lain untuk menerapkan syariat Islam selain melalui parlemen atau pemilu?
Kesalahan Paralaks
Pada dasarnya, pemilu dan parlemen bukanlah satu-satunya cara untuk memperjuangkan syariat Islam. Masih banyak cara dan altematif lain yang bisa ditempuh oleh kaum muslim untuk memperjuangkan tertegaknya syariat klam. Yang penting, cara yang ditempuh tersebut sesuai dengan aqidah dan syariat Islam.
Pada dasarnya, pandangan-pandangan keliru tentang pemilu dan parlemen beranjak dari kesalahan paralaks. Kesalahan paralaks ini telah mengakibatkan lahirnya fatwa-fatwa dan strategi perjuangan yang salah. Kesalahan paralaks ini terwajahkan pada pandangan-pandangan berikut ini.
1.Selama ini, pemilu dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk meraih kekuasaan dan menerapkan syari’at Islam. Meskipun mereka tidak menyatakan hal ini secara terbuka, akan tetapi alasan-alasan yang mereka ketengahkan telah menunjukkan dengan sangat jelas, keterjebakan mereka dalam kesalahan paralaks ini. Misalnya, alasan yang menyatakan, bahwa jika tidak mengikuti pemilu, maka parlemen akan dikuasai orang kafir. Muncul juga statement bahwa, mengikuti pemilu berhukum wajib berdasarkan kaedah “maa laa yatimm al-waajib illa bihi fahuwa waajib”; “akhdz akhaff al-dlararain”, dan sebagainya. Alasan-alasan ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa mereka telah menganggap pemilu sebagai satu-satunya jalan untuk menerapkan syariat Islam.
2.Penerapan syariat Islam bisa ditempuh melalui jalan haram, selama di dalamnya ada kemashlahatan. Sebagian dari kaum muslim menyadari bahwa ada perkara dan mekanisme tertentu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam. Misalnya, fungsi penetapan hukum (legislasi) serta mekanisme pemilu untuk mengangkat presiden. Padahal, kewenangan untuk menetapkan hukum tidak ada di tangan parlemen, akan tetapi di tangan Allah Swt. Dari sisi sistem pemerintahan, presiden bukanlah kepala negara yang absah menurut syariat. Kepala negara yang absah dalam pandangan Islam adalah khalifah, imam, atau amirul mukminin. Jika pemilu ditujukan untuk memilih presiden, sama artinya kita telah melanggengkan sistem pemerintahan republik yang sangat bertentangan dengan Islam. Sayangnya, calon-calon wakil rakyat dan sebagian besar masyarakat telah mengabaikan perkara-perkara ini, dengan alasan madlarat dan kemashlahatan umat.
Seharusnya, pemilu dipandang sebagai cara (uslub) untuk mengganti kepala negara dan memilih wakil rakyat yang berhukum mubah.
Tatkala kedudukan pemilu sebatas hanya uslub, maka hukum tentang pemilu ditetapkan berdasarkan mekanisme, dan syarat-syarat yang ada dalamnya. Selama syarat-syaratnya sejalan dengan syariat Islam, maka hukumnya tetap berada dalam wilayah mubah. Sebaliknya, tatkala di dalamnya ada mekanisme dan syarat yang bertentangan dengan Islam, maka terlibat maupun berkecimpung di dalamnya adalah tindakan yang diharamkan oleh Allah Swt.[Selesai]